• Home
  • About
  • Puisi
  • Pendapat
  • Cerita Aneh
instagram Email

Pangeran Kucing

Jurnal Harian dan Kata-kata Bualan



Selama musim kemarau ini, suara kami parau sebab diminta berteriak oleh jiwa-jiwa kecil dan rentan yang tidak terima bersemayam di ujung-ujung ulu hati. Kami juga belum pernah ke sana. Terkadang kami meraung seperti serigala, kadang mirip singa betina, tapi tak jarang juga seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Sampai retak segala pita suara di tenggorokan, hampir habis pula napas yang tinggal sepenggal-sepenggal. Kata ibu, sudah cukupkan. Kata ibu, biar dibalas Tuhan. 

Kata ibu tinggallah kata-kata. Kami bakar kotanya. Dan segala rencana-rencana sadis lainnya. 

Sumpah per satu dirapalkan cukup kencang. Juga mantera yang tetiba muncul di belakang kepala. Berhari-hari hadir dalam bentuk mimpi buruk. Ketar-ketir tapi dilanjutkan saja. Utarakan serapahnya agar kami lega dan tidak lagi berandai-andai dalam rencana. Ah, berhari-hari nampak seperti Filsuf Yunani yang bertukar kata-kata bijak dan bajik. Seperti manusia yang tidak sedang dalam nuansa duniawi, berada di antara bumi dan nirwana. 

Tahukah kau, kami hidup dalam payung-payung sepakat. Untuk segera pergi dari kota atau neraka sebutan favoritnya. Berkali-kali mengunjungi taman yang wangi dan tumbuh bunga-bunga. Langitnya biru dan siap dimiliki, ujarnya. Saya girang memeluk langit erat-erat, sementara yang lain, anehnya kembali ke kota. Dan bertutur siap menerima kembali asapnya. 

Payung sepakat telah menguncup. Keputusan dan rencana kemarin hanya dalam rancang saja. Entah apa di pikiran manusia-manusia. Cukup kecewa, meski Filsuf Yunani terus memaksakan dikotomi kendali. 

***

Kata Pandji, semua orang punya pilihan untuk pergi dan mengubah kembali identitasnya. Bahkan, kalau kau tidak suka dengan negara ini, pergi saja. Cari tempat lain yang lebih kau sukai. Barangkali tempat yang menawarkan udara dan tanah yang lebih segar. Penduduk yang mengagungkan nurani dan nilai humanis lainnya. Buat apa kembali ke tempat yang secara terang dan jelas memekakkan telinga, buat sesak napas, hilang akal, habis nalar, dan penyebab keputusan irasional lainnya. 

Mari pergi dengan susah payah.  



Share
Tweet
Pin
Share
No comments


Di tengah angin ribut dalam satu dekade ini, Tuan. Membaca nama Anda dalam salah satu penggalan ayat kitab suci membuat Puan, berhenti sejenak. Kepada Tuhannya yang sedang diajak bicara, ia menghamba semoga bertemu Tuan dalam wujud lainnya. Sambil pejamkan mata, ia kembali hanyut dalam segala macam amin. 

Oh, Tuhan hadirkan satu kembali yang demikian. 

Kemudian dikirimkan rupa-rupa doa. Malam ini, Tuan. Langit tampak seperti kota terang siang hari yang banyak lalu lalang tukang pos, pria pengirim paket barang, dan sesiapapun yang teriak 'paket' di depan gerbang. Akankah satu windu atau satu dekade sekali pun, dari mana Puan tahu kembali datangnya balasan kabar. Duhai, hari-hari ganjil dan genap nanti, surat dijaga baik-baik oleh semesta.

Tuan, alangkah senja yang disaksikan bersama Puan kala itu layak disebut senja paling baik. Sebab punah sudah seluruh senja di kehidupan selanjutnya. Sisanya, tak ubah seperti lukisan yang dicat oleh pelukis-pelukis amatir yang rela tak dibayar asal karyanya berhasil diromantisasi. Senja milik Puan itu, dikubur di bibir pantai bersama kata-kata mustahil lainnya. Bukankah begitu? 

Setelah sekian lama, Tuan. Puan sengaja berulang merapalkan nama Tuan di salah satu penggalan ayat kitab suci sepenuh hati. 
Share
Tweet
Pin
Share
No comments


Mati segan hidup tak mau. Rupanya sehari luka sehari duka. Dan begitu seterusnya sampai pesta ini selesai. Pesta sepanjang tahun selama musim paceklik. Juga angin warna abu-abu. Langit yang bergerak cepat. Mereka bergantian cuma hitam pekat dan gelap saja. 

Manusia-manusia ini sudah lupa berharap pada Tuhan dan menginginkan hantu. Hadir dalam imajinasi dan juga api-api. Semuanya menyala semaunya. Kadang terbakar sendiri, kadang hangus lalu ajaibnya bangkit lagi. Persis yang diceritakan di dalam kitab suci. Apakah mereka sudah berada di alam baka?
 
Suatu hari banjir bandang di atas pipi. Saya hanya menginginkan secangkir kopi susu manis. Tapi kedai di seluruh dunia gagal. Mereka cuma punya pahit. Dokter menyarankan ganti lidah, ternyata ini sebabnya. Kamu menawarkan pengganti. Saya gelengkan kepala. Punya kamu banyak bohongnya. 

Tidak ada kata-kata dalam bulan-bulan. Hanya pena dalam genggaman. Dan kilas balik kejadian dalam ingatan. Salah satunya, presiden mengumumkan kemerdekaan. Rakyat suka ria. Saya masih mati segan hidup tak mau. Tambah sewindu luka tambah sewindu duka. Saya memilih tidak merdeka. 
Share
Tweet
Pin
Share
No comments




Ada beberapa jenis perayaan yang dihindari karena alasan egois yang masuk akal.

Barangkali besok kau merayakan ulang tahun dan kecewa di awal acara karena tak ada satu pun yang mengisi buku tamu termasuk aku. Sebaiknya mohon maaf atau tidak?

Saat ditanyai, beberapa orang takut kembang api dan badut. Memang terdengar seperti dua alasan yang tidak patut bagi orang dewasa. 

Dalam keterangan lebih lanjutnya, kawan kau bilang, suara meledak-ledak api sebaiknya tak dibunyikan karena tadi pagi di depan televisi ia melihat perang antar-negara yang tak kunjung usai. Mereka melempar api sama seperti saat ulang tahun kau.

Yang lainnya sendu menambahkan, badut tak selamanya gemas. Di suatu padang rumput, badut membawa sebilah pisau dan mengejar manusia. Kalau di momen ulang tahun kau tiba-tiba ada kawan yang diterkam bagaimana?

Ada pula yang tahunnya tak berulang karena sudah tak punya dan menetap di angka yang sama. Tapi yang ini jangan kau undang.

Suatu hari apabila semua orang ulang tahun, harap maklum jika dunia diam dan berjalan seperti hari-hari tak ulang tahun. Mereka menimati kehidupannya masing-masing karena waktunya adalah miliknya. Kecuali jika kau membayar dengan apapun yang setimpal.  

Pada akhirnya, manusia akan merayakan sendiri-sendiri seluruh perasaan sesuai nasib, menelannya lewat kerongkongan seperti minum pil. Meskipun pahit mau tak mau harus masuk ke tubuh agar tak sakit-sakitan, bukan?

Ada banyak perayaan di muka bumi ini, silakan pilih yang disukai dan tidak.

Kau harus tahu sesekali, yang disukai hewan terbang bernama kunang-kunang adalah perayaan manusia patah hati. Suara manusia itu perih dan hatinya petang. Kunang-kunang menyala dan jadi teman baik agar Tuhan memasukkan ruhnya ke dalam surga sebab hidupnya tak akan lama. 

Maka tuan patah hati disarankan meneguk satu gelas minuman pusing. Alkohol mengajari cara patah hati menguap ke udara. Lama kelamaan kunang-kunang yang berjarak mendekat berjengkal di atas kepala. Tuan jatuh setelah berkunang-kunang.

Bahagia milik sendiri, sedih milik bersama dalam tawa kecil masing-masing orang. Itu alasannya lebih baik tidak ada perayaan apa-apa.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Bergeming dalam embun atau jelaga. Kau diam satu hari saat di luar rumah hujan dan pekik petir bersahutan. Mereka bernostalgia di mana semesta masih cuma ada berdua dan debu-debu terbang seperti peri mini yang tiada dipedulikan. Kemana-mana hanya bertemu punggung satu sama lain dan tulang-tulang yang kadang bersentuhan. Sekadar menyapa lembut hujan dan gagah petir yang baru saja berkisah saja kau enggan. Padahal kalian punya kemiripan: selalu bertemu kenangan. Kau memang sedang bergeming. 

Juga malam saat kau tak beda dengan arca dan patung. Menolak keributan dan mendambakan tenang. Semua lampu mati, kau berusaha berkepala kosong. Abaikan kawan dan handai taulan yang berisik dan banyak minta. Biarlah Tuhan yang kabulkan. Sementara kau hanya manusia biasa yang akhir-akhir ini sering menangis. Di atas bumi yang bulat biarkan manusia berjalan sendiri-sendiri, mati, dan kelak hidup lagi. 

Perihal mencari ketenangan termasuk siapa yang kau pilih untuk menjadikan kau tenang dan kau menenangkannya. Dan kau memenangkannya. 
Share
Tweet
Pin
Share
No comments


Kutanyai mengapa kau tidak makan dalam seminggu. Dengan sisa-sisa energi yang kau bongkar dari daging, parau jawaban itu samar-samar kudengar, Work is Love Made Visible. Rupanya kau kenyang dengan kata-kata mutiara Kahlil Gibran sehingga tak perlu lagi nasi. Semesta menyaksikan kau dengan perut geli sebab ada penduduk miskin yang berdelusi tentang gairah kerja. 

Mungkin kau sudah lupa tentang bagaimana punggung kau yang penuh asap kendaraan juga kerah dan ketiak kau yang menguning penuh dengan sarang daki dan kandidat jamur. Hari itu kau bilang hanya makan satu kali, sisanya untuk tumbuh kembang anak-anak kau. Kau pilih menumbuh suburkan yang sering kau sebut idealisme di rongga dada yang sempit karena sudah dihuni sakit menahun. 

Kau tak perlu percaya dengan kata-kata motivasi tentang Dreams Comes True. Sebab barangkali hidup kau juga akan habis dalam beberapa jam ke depan jadi hadapilah kenyataan. Kelak kau akan puas bermimpi sepanjang yang kau mau di bawah tanah tempat manusia berpijak mencari uang hasil perhitungan realitas dan hitam putih di atas kertas. Acap kali kau enggan berhitung akhirnya gagal bertahan hidup. 

Harapanku di dalam pesan terakhir yang kau bisikkan ke telinga anak kau sebelum pergi, bicaralah cari uang yang banyak!
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Aku tahu kau ingin sekali menjadi sebilah pedang bermata dan berkaki. Kau utarakan suatu hari tepat saat matahari berhenti di punggung langit, keinginan yang tiada pernah masuk akal. Kau bersimpuh dan aku menyaksikan tangis muram dan bergetar seperti saat duka kematian dan pemakaman. Kupikir, siapa yang telah meninggalkan kau seperih ini. 

Zaman sekarang tidak banyak pedang diperjualbelikan. Kau akan habis digunjing orang-orang sebab ada pedang hidup di tengah penduduk desa. Bisa-bisa kau diarak berkeliling karena berisiko membunuh dan mengancam nyawa. Kemudian aku tawarkan opsi lain, bagaimana jika menjadi pisau dapur saja? Setiap rumah tangga menyimpan rapi di rak piring masing-masing rumahnya. Kau aman, akan diasah dan dicuci sampai bersih. Dibawa ke kebun, depan teras, atau pesta hajatan masyarakat. 

Kau mengumpat nyalak dengan kata-kata binatang. Menolak menjadi pisau dapur yang culun dan mengajakku pergi ke zaman lampau. Menyaksikan seorang algojo penghukum mati mengadili nyawa bagai Tuhan. Mengayunkan sebilah pedang tajam berpangkal tembaga ke leher manusia yang diperintahkan raja. Setelahnya ia bisikan "Tuhan mengampuni segala yang berdosa" ke telinga yang sudah lepas nyawa.

Sama, kata kau yang juga ingin menerkam jantung kekasih yang pergi dan mematahkan nyawa kau. Lalu berbisik tepat ke telinganya "Aku memaafkan segala yang bersalah". 
Share
Tweet
Pin
Share
No comments


Satu hari di museum yang telanjang dan tiada didatangi orang-orang. Tuan marah-marah dan seluruh bingkai di dalamnya pecah. Semua lukisan lari tunggang langgang ke jalan raya dan ikut marah-marah ke pengendara motor, mobil, sampai tukang bensin. Kota jadi terbakar dan berubah warna-warni. Apalah kemarahan Tuan bikin walikota tambah senang karena membuat wilayahnya makin semarak. 

Saat teriakan kecewa masih menggonggong di tenggorokan Tuan, anak-anak muda sibuk berswafoto mengabadikan keajaiban langka. Sebab tawanan museum yang cantik lepas dan mempersilakan diri dinikmati tanpa harus membayar ke loket tiket. Headline media menganugerahi Tuan dengan lencana sejarah dan jabatan istimewa. 

Suara tuan parau dan nyawanya setengah mati menahan amuk. Di tengah kota diadakan pesta dengan genderang drum, denting piano, petik gitar. Ada biduan yang disewa menyanyi menggoda pemuda-pemuda yang lewat. Meskipun rakyat acap kali abai dengan pesta karena sibuk mengekor lukisan yang lepas kandang, seperti anak kecil yang menggandrungi arak-arakan tukang monyet. 

Oh, Tuan. Museum telah dibuka kembali dan orang-orang menyaksikan pajangan satu-satunya dengan suka cita dan gemuruh tepuk tangan: Tuan yang malang segenap amarahnya. 
Share
Tweet
Pin
Share
No comments


Suatu saat di awal Januari yang abu-abu dan masih hujan, orang-orang bersuka cita menyambut kelahiran dan jatuh cinta, kecuali sore yang malang dan ditinggalkan. Ia membenci munculnya satu nyawa atau bersatunya dua orang yang bersenang-senang dan saling melempar puji. 

Ia lebih suka hari senin karena banyak orang murung dan layu seperti zombie. Atau akhir bulan dan kantong yang kekeringan. Ia juga membaur ke dalam serabut pohon tua yang tak diinginkan karena lapuk dan bisa tumbang kapan saja terkena gemuruh petir. Patah hati jadi teman sebangku yang akrab, umpama saudara yang terpisah lama. 

Coba tanya Boys II Men tentang On Bended Knee, mengapa begitu muskil mengajukan permintaan. Menciptakan halusinasi anak muda yang basah kuyup menangis sendiri. Mereka memeluk payung yang mengembang padahal sumber mata air ada di air matanya masing-masing.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments


Kesukaran terkadang juga minta dirayakan. Sama seperti hujan basah yang menarik paksa anak-anak kecil telanjang dada dan kaki menari-nari senang di bawah langit. Sialnya, hujan terlalu deras, besok tidak ada lagi anak kecil karena mereka flu dan harus minum obat. Orang terpaksa menelan pahit setelah serangkaian hura-hura.

Minggu-minggu yang penuh perayaan: pagi, siang, malam. Sesekali pakai lilin kue ulang tahun yang habis tak sampai lima menit. Sementara kau tak kunjung habis setelah bertahun-tahun. Selalu menyambut kedatangan dan kepergian yang sama. Kelipatan tahun lahir itu memanggil badut sirkus kemudian pinjam topengnya dan baju merah polkadot putih yang tak bisa dilepas selamanya. 

Setelah berhasil menipu silakan mampir ke rumah sakit atau bengkel karena keduanya menawarkan reparasi perkakas yang enggan mati. Dibunuh kewarasan dan ditumbuhkan seribusatu pertanyaan-pertanyaan, terutama: bolehkah membenci satu orang tanpa alasan? 

Alasannya agar semua orang terkutuk tak hanya si tuan patah hati saja. Padahal kau seringkali mendengar patahan kayu di hutan saat kemarau panjang dan tak ada yang menangis karenanya. Ini hanya sebentuk hati, ajak saja masuk ke dalam hutan dan bertemu yang lain yang juga patah dan tidak terganti. Kelak kau tak pernah temukan lagi di sisi hutan bagian manapun saat membutuhkan. 

Satu pagi yang mati rasa ada secangkir kopi pahit berteriak meminta jangan diminum. Tapi setelah mencapai tenggorokan teriakannya menjadi pelan karena pahit atau asam semuanya akan terasa sama saja, ya.

Sekali lagi hujan mengguyur kota kami. Dan kejadian setelahnya. Dan kejadian setelahnya. 


Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Di perempatan lampu merah yang bising dan lalu lalang kendaraan beroda dua, empat, enam, bahkan delapan. Barangkali matahari sedang menghukum bumi lewat terik yang membuat hangus kulit.

Di perempatan lampu merah yang tak punya tuan rumah. Kali ini dijaga laki-laki paruh baya yang tangan kirinya memegang kruk penyangga. Sama-sama jadi pengingat, baiknya minta pada langit agar diberikan keselamatan dalam perjalanan.

Di perempatan lampu merah juga ada manusia yang punya rumah tapi serasa tak punya tempat kembali. Sebab seringkali ia termakan omongan sendiri, harus pergi kemana lagi. Padahal pintu rumah terbuka lebar. Ada pelukan hangat di sana.

Di perempatan lampu merah, terdapat pula salah prasangka. Setelah bertahun-tahun meminta kepada Tuhannya satu pengharapan khusyu'. Naik segala jenis doa dan doa. Sampai melangkahi kehendak. Doa pun berubah menjadi tuntutan. Mau tidak mau, suka tidak suka.
 
Saat prasangkanya patah. Maka tidak ada lagi yang tersisa. Semoga tidak ada ucapan jahat yang larung dan terlanjur dikabulkan semesta.

Malam hari yang sepi. Perempatan lampu merah sibuk membersihkan ambisi, keinginan, sangkaan supaya besok jalanan tidak macet.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Dunia terlalu bising. Lebih berisik daripada kepakan sayap nyamuk saat jendela atau pintu kamar tak sengaja dibuka di malam hari. Suaranya melengking di daun-daun telinga. Barangkali sudah haus minum darah atau tanda ingin kawin. Tapi saya punya obat nyamuk, raket listrik, atau semprotan kimia. Saat produk kimia itu disebarkan, nyamuk tunggang langgang. 

Tapi kali ini dunia terlalu bising karena undangan dari manusia. Kau yang minta barangkali. Bukan nyamuk yang jelas-jelas jadi musuh negara. Makanya banyak sales keliling yang ketuk-ketuk pintu menawarkan serbuk abate. Kau yang menghadirkannya dalam bentuk bunyi-bunyi lonceng notifikasi. Ada pesan yang harus segera dibalas, video yang minta disukai, atau foto yang minta diberi tanda hati. 

Mungkin saja itu baik. Jaring-jaring tetap harus ada bukan? Banyak orang yang tak ingin kehilangan kabar-kabar kawan lama, jalinan silaturahim, news, promosi produk rumah tangga, info make up terbaru, info bekas kekasih hati, perghibahan terkini. Bahan gosip. 

Gawai yang awalnya diciptakan sebagai solusi 1001 keluhan mungkin kini lebih sering menyajikan informasi utopis yang menyita atensi. Beberapa orang bahkan benar-benar menjadi anomali dan merasa tertepikan. Ah iya, banyak standar-standar baru yang diciptakan. Paradigma cantik, sukses, tampan, kaya, populer. Jika tidak sesuai patokan maka manusia berlomba-lomba menuju satu kiblat yang sama.

Boleh ya duduk sebentar, biar faham. 


Mana tahu ada luka-luka lama yang belum sembuh. Sejauh ini hanya dimampatkan biar darahnya tidak anyir saja. Disuapi terus menerus dengan hiruk pikuk dunia maya. Atau mana tahu ada keluaraga dan handai taulan yang telah lama tak disapa. Panggilannya tertumpuk oleh kegiatan di sosial media alih-alih diatasnamakan kesibukan.

Secara tak sadar, dalam setengah jam berapa kali kunci gawai dibuka dan ditutup. Sekadar memastikan keterhubungan. Padahal sendirinya sudah hilang kesadaran. 

Setelah nyamuk-nyamuk itu pergi, tidur jadi lebih tenang. Kalau bisa silakan pesan satu kilo serbuk abate biar bisa kembali kontemplasi. Sayangnya, tidak bisa. 

Share
Tweet
Pin
Share
No comments


Malam yang tidak bisa tidur, padahal seharian sudah gelap. Dan dua buah kantung mata yang berat, enggan mengajak kelopak untuk merapat. Mana bisa, kemudian saya berdoa.
 
Tepat saya ingat doa-doa yang lalu diutarakan secara khusyu' dan serius. Sampai berderai-derai, sampai punggung yang ikut  pula berguncang. Langit pasti mendengar. Langit pasti mendengar. 

Dia percaya doa, begitu pun saya yang juga percaya hari ini datang. Dan pelukan kembali saya utarakan ke langit. Agar tidak terlalu dingin. Agar tak terlalu sakit. 

Saya beberapa butir pasir yang pasrah pada ombak di bibir pantai. Apakah akan dihempas menjauh, atau diteguk mendekat. Selayaknya pasir saya tidak akan pernah meronta. Hanya berdoa. 

Ramalan dan firasat keduanya tak baik untuk jiwa saya karena nyatanya selalu meleset. Setidaknya firasat terakhir tentang dia yang sangat pahit. Sampai-sampai saya tak mau minum kopi. Bolehkan hanya memesan teh manis saja? 

Tetapi doa satu-satunya senjata yang menghidupi empat ruang jantung. Dan rongga-rongga otak agar tetap waras. 

Mohon izin untuk selalu larung dalam doa. 
Share
Tweet
Pin
Share
No comments



Setelah lari yang kau anggap panjang. Akhirnya diberi ruang untuk luang. Biar bisa memaknai apa yang sebenarnya terjadi. Sedang pada titik kuadran mana atau lintang berapa. Barangkali salah baca peta, atau peringatan harus menepi sebentar karena perbekalan menipis. Pergi ke rumah penduduk, saling sapa menyapa orang belahan bumi lain. 

Padahal rumah, ah rumah. 

Kemarin mungkin salah naik tumpangan. Seharusnya kau pergi dengan kendaraan timur, tapi menumpang ke angkutan tenggara. Mungkin di dalam perjalanan kau lupa tentang langit dan semesta. Atau berbagai kemungkinan lain. 

Sebentar, bernapas sebentar. Kau butuh udara segar agar tidak mimisan.

Akan tetapi, tidak bisa keluar rumah. Dan juga terperangkap dalam kenangan lama. Keduanya membentuk gelembung ganda yang semakin hari, anehnya semakin kuat hebat membebat. Lama kelamaan, berbelas pasang rusuk retak, patah, dan jangan sampai remuk. Retak dan patah juga bukan hal yang baik. Maka jangan tambah-tambahi susahnya keadaan dengan kenangan. 

***

Sementara:

Bukannya sudah jelas rumusnya bahwasanya, rezeki ada untuk mereka yang bergerak. Kalimat itu lantang  menggema di rongga-rongga kepala. Dan telah mendapatkan persetujuan dari diri kau sebelumnya. Sebelum jatuh miskin. Kemudian, semesta memvalidasi perkataan sendiri, apakah benar sepercaya itu. 

Dan pada akhirnya segala tentang iman memang perlu divalidasi entah beberapa kali. Kau pikir. 

Kau juga berpikir, pada zaman dahulu. Pedagang jam bisa hidup cuma dengan membuka tokonya dua jam per hari. Jelas tidak mungkin kau berubah profesi jadi pedagang jam dan bekerja sependek itu. Tapi, sayang kau habiskan waktu. Renungi lagi. Sesi ini memang untuk perenungan. 

Maka benar berhenti sejenak. Mungkin beberapa waktu ke depan akan berlari. Dan semoga yang terbaik dari semesta untuk kau yang harusnya jadi orang baik hati. Selama belum lari, tunggu dulu. Jangan banyak habiskan energi di tempat. Bersabar. 
Share
Tweet
Pin
Share
1 comments

Hidup di dalam standar yang dibuat oleh orang lain membuat kamu terus lari jauh. Berusaha mencapai garis finish yang sebenaranya kamu sendiri ngga tahu, seberapa jauhnya. Atau mungkin garis finish memang ngga pernah ada. Hanya delusi yang dibuat-buat sendiri. Tapi semua orang bersorak, menyuruh terus berlari. Ada yang meraung-raung pakai toa, ada yang melengking pakai peluit. Naasnya, kamu anggap mereka seperti bahan bakar agar terus berlari. 

Ukurannya pakai angka dan pujian. Batasan upah gaji yang disebut-sebut makmur jika telah mencapai angka sekian. Pujian betapa mempesona dan menariknya paras dan tubuh kamu. Jumlah pengujung dan komentator media sosial. Semuanya seakan menjadi dukun dan kamu boneka fudunya. Perut ditusuk, ikut sakit. Kepala dicubit, ikut pusing. Persis juga seperti pesirkus dan budak singanya. 

Sekali-kali beranikan diri membuat secarik kertas berisi tujuan dan standar hidup sendiri. Tuan hidup kamu, ya siapa lagi. 

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Pertanyaan ayam dulu baru telur atau telur dulu baru ayam sudah tercetus lama sekali, saat kita besarnya masih seukuran anak ayam pula.

Tapi ayam-ayam, baik betina atau jantan tidak pernah pusing mikirin siapa yang duluan muncul. Karena bagi mereka, pertanyaan satu jam lagi masih hidup atau engga, atau sudah jadi opor atau sudah hangat di bakaran, jauh lebih penting ketimbang pertanyaan-pertanyaan filosofis macam itu.

Berbeda dengan manusia yang suka ber-retorika. Ayam saja dipertanyakan apalagi diri mereka sendiri yang rumit dan susah ditebak. Uniknya, mereka sok-sokan menebak: otak diisi pikiran sebelum jalan, atau otak boleh berpikir sambil jalan? 

Para ayam silakan meninggalkan jejak komentar

Hailnya, manusia itu tetap di dalam atap rumah tak kemana-mana. Sama seperti otaknya yang masih kosong. Kalau malam sedang pekat dan tidak sedang padang bulan, kamu bisa melihat gelembung-gelembung warna putih keluar dari corong asap atapnya. Itu namanya angan-angan palsu.

Sampai pertanyaan ayam sudah terjawab, "ayam dulu" kata pakar-pakar yang pandai.  

Pasalnya, kala itu saya yang tengah bingung tak kunjung keluar dari dunia perkampusan, bukan karena ketidakmampuan menyelesaikan studi. Namun, ada juga ketakutan dan ketidaktahuan mau jadi apa. Satu-satunya yang diyakini yaitu ingin jadi penulis. Padahal saya tidak sadar, sejak kecil sudah jadi penulis. Tulisan ini juga hasil karya penulis, bukan? Cita-cita saya tampaknya sudah terkabul sejak dini. Selamat! 

Jelas yang dimaksud bukan cita-cita yang ngasih makan jiwa saja, tapi ngasih makan lambung, usus dua belas jari, usus halus, usus besar, an-, apakah anus juga harus diberi makan? Hm.

Saya yang mungkin terlalu ingin cepat dewasa dan menginginkan kesalahan yang nihil, dan lupa bahwa perasaan dan pertimbangan yang nantinya akan ditentukan setelah selesai dikerjakan. Nyaman atau tidak, cocok atau tidak, dibangun dari pengalaman yang pernah dan pengetahuan yang sudah. 

Rasakan tanahnya bergelombang atau datar, rumputnya kasar atau lembek, atapnya kering atau lembab, kantinnya lezat atau basi, mesinnya bising atau lembut, tungkunya panas atau terlalu membara. Rasakan kehadiran manusianya, apakah sesuai yang diinginkan atau tidak. Sesederhana itu.  
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Kadang benteng yang awalnya dibangun untuk melindungi, justru akhirnya akan mengukung dan membuat orang di dalamnya ngga kemana-mana. Persis kayak kehidupan Rapunzel, tapi untung dia punya rambut yang panjang jadi bisa kabur. 

Segalanya dianggap akan aman-aman saja. Di dalam atap rumah yang berbatas teras paling depan dan kamar mandi paling belakang. 24 jam dan seluruh menit detiknya lengkap dihabiskan disana. Perlahan ia poles dindin-dinding dengan semen tebal, lalu keramik-keramik mahal penuh kilau. Selama bertahun-tahun.

Tapi siapa yang tahu, terpapar silau bikin mata sakit, tulang-tulang ngilu, dan dibandingkan manusia seusianya, ia tak pernah tumbuh tinggi. Perlahan menjelma menjadi liliput.

Ada gumpalan awan hitam di atas kepala mereka yang tak kemana-mana. Setidaknya itu kejadian yang terkonfirmasi secara berulang di hidup saya. Perspektif harus digali dari mulut pedas orang lain, sampai mulut manis malaikat. Cerita harus diketahui dari palung paling dalam sampai gunung paling tinggi.

Bukan begitu? 



Share
Tweet
Pin
Share
No comments


Apa salahnya bergumam, mengumpat, menyumpah dalam hati? Toh, tidak ada yang peduli. Kecuali semesta yang curang, menguping diam-diam. 

Sejatinya, pikiran bukan tempat persembunyian paling aman. Radarnya masih bisa sampai ke telinga alam semesta dan keluhan yang waktu itu saya utarakan kabul sudah, dengan cara yang tak diinginkan. Doanya, kurang lengkap. Kata orang-orang yang pernah mendengar kisah ini. Tapi, tak akan saya jabarjujurkan. 

Cerita tersamarkan

Hujan yang harusnya disyukuri menjadi letupan keluhan yang tenang hanya jika saat ada matahari. Sumpah serapah diteriakkan, namun alhasil hanya didengar oleh paru, ginjal, hati, hipotalamus, dan gendang telinga itu sendiri. Menggema suaranya dalam rongga-rongga badan. 

Tentang mengapa harus turun air dari langit yang membuat bajunya kuyup, sepatunya lembek, orang-orang melihatnya seperti gorengan setelah duabelasjam -letoi-. Dan pekerjaan dengan upah yang tak seberapa, atasan marah-marah, spidol habis dan ia harus membeli dengan uang pribadi. Juga mengapa kucingnya setiap hari harus makan sehingga mengurangi uang dari dompetnya sebesar limapuluhribu.

Ah, iya. Ia lupa menghubungi rekanan yang tak sabar menerima kabar. Kemudian diambil sebatang alatkomunikasi yang mulai berembun tapi masih rigid. Ditombol-tombol dan tak lama kemudian berkedip seperti bukti napas terakhir. Konslet.  

Di waktu-waktu lalu

Melihat pekarangan tetangga yang hijau dan ia yang tak punya pekarangan selain limapulusenti jarak rumahnya dengan jalan raya, berbatas tanah berdebu tempat kucing biasa menaruh tahi. Ingin rasanya menghubungi pejabat yang digaji uang pajak, mengadu mengapa hidup manusia bisa berbeda-beda padahal sama-sama rakyatnya negara. Tapi ia lupa, sebatang alatkomunikasi milikmya tak layak menjangkau jaring sinyal kalangan elit.

Lalu saksikan miliknya yang ketinggalan jaman dan mulai berkhayal-khayal tentang andai bentukannya baru, andai kekinian, andai bukan ini, andai itu. Andai-andai diam yang sering.

Amin, kata semesta. 


 




Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Sebuah siang yang terik dalam angan-anganku yang pekat. Kota ini sebentar lagi akan mati digulum takdir. Sama seperti rencana Puan yang ingin membunuh keinginan -dalam memiliki Tuan sepenuhnya-. 

Ranjau dimana-mana, bom yang berusaha dijinakkan dan pikiran yang masih liar berdansa diantara ketidakmungkinan-ketidakmungkinan. 

Sampai suatu waktu dentuman menggelegar berkali-kali lalu membangunkan kening Puan yang mati suri akibat ditembak senapan yang kosong peluru penuh memoar. Tidak tewas dan hidup enggan. 

Kota sudah habis tutup tanggal gulung tikar. Serangga yang tinggal dalam saluran pembuangan muncul berbaris merayakan kemenangan dan kebebasan dari penindasan. Mereka berbisik kepada Puan yang ajaib masih bertahan, apa Tuan sudah mati? 

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Planta, Árbol, Naturaleza, Línea Arte, Diluvio, Cráneo

Mengapa badainya tak kunjung selesai? 

Senjata mulia yang hanya diperuntukkan bagi Raja dan kaum bangsawannya. Terlarang bagi kaum Sudra dan rakyat jelata lainnya. Jikalau saya hidup berabad-abad silam dari zaman -tiktok- ini, maka alangkah suatu kemustahilan pun hanya memandang keris keluar dari sandangan, apalagi menyentuhnya. Asumsi: jenis golongan kaum saya saat ini dan waktu yang lalu tak jauh beda. Eh, siapa tahu bisa jadi dahulu  saya anak raja atau elit istana. 

Keris yang dikenal sakti bukan semata-mata didapatkan dari besi rongsokan atau sembarangan hasil penggalan logam tua. Bayangkan, bahannya diramu dari besi pilihan terbaik bahkan desas-desusnya berasal dari besi meteor yang sering dilihat di langit lalu jatuh ke tanah bumi. Pande bilang, tak heran jika corak dan liuknya menawan, seetiap detilnya magis. Konon, ketika kau panggil tuan pemilik senjata hunus lainnya, sebut saja samurai dan pedang, tak akan bisa menyamai kekuatan keris dengan segala kemasyhurannya. 

Mari belajar dari keris

Tentang hantaman palu godam yang bertalu-talu dan jilatan api yang membara. Tumpukan batang besi sebanyak delapanpuluh keping itu dimampatkan menjadi satu lapis berliuk-liuk ganjil. Bukan sehari dua hari para pande mengerahkan bisepnya tapi berbulan-bulan, adapula yang hampir genap satu tahun. Terus dipukul, diperapikan suhu tinggi, dipukul lagi, panaskan lagi, ditambah keping besinya, dipanggang, dihantam lagi, begitu seterusnya sampai lahir sebuah keris yang indah.

Kau bukan keris begitu juga saya. Tapi seperti orang belajar dari sebuah tong yang nyaring bunyinya dan sekumpulan air yang jika beriak maka tandanya tak dalam, rasanya sah-sah saja jika mengambil intisari keris untuk melecut usaha kau yang tak seberapa, padahal ingin menjadi lebih dari apa-apa. Badai masalah yang saat ini melilit badan dan tulang bisa jadi bentuk godam. Juga dunia yang tak nyaman sekarang merupakan sebuah tungku perapian yang membakar.

Terus jalan, sebentar lagi kau akan jadi keris. Bertahanlah. 

Tercetuslah ide tulisan ini setelah menyaksikan video Pandji dengan segala bentuk optimismenya. 




Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Newer Posts
Older Posts

Tentang Saya

Penulis yang suka main kata-kata. Cek juga hasil pikiran otak kiri saya di linisehat.com

Follow Us

  • instagram
  • Google+
  • youtube

Categories

  • Cerita Aneh (8)
  • Fiksi (5)
  • Pendapat (26)
  • Puisi (8)

recent posts

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

  • ▼  2023 (3)
    • ▼  Juni 2023 (1)
      • Susah Payah
    • ►  April 2023 (1)
    • ►  Maret 2023 (1)
  • ►  2022 (6)
    • ►  Juni 2022 (1)
    • ►  Maret 2022 (1)
    • ►  Februari 2022 (2)
    • ►  Januari 2022 (2)
  • ►  2021 (5)
    • ►  November 2021 (1)
    • ►  April 2021 (2)
    • ►  Maret 2021 (1)
    • ►  Februari 2021 (1)
  • ►  2020 (30)
    • ►  November 2020 (2)
    • ►  Oktober 2020 (2)
    • ►  September 2020 (1)
    • ►  Agustus 2020 (6)
    • ►  Juli 2020 (9)
    • ►  Juni 2020 (3)
    • ►  Mei 2020 (2)
    • ►  April 2020 (5)
  • ►  2019 (19)
    • ►  November 2019 (3)
    • ►  September 2019 (2)
    • ►  Agustus 2019 (3)
    • ►  Juni 2019 (5)
    • ►  Maret 2019 (3)
    • ►  Februari 2019 (2)
    • ►  Januari 2019 (1)
  • ►  2018 (29)
    • ►  Desember 2018 (3)
    • ►  November 2018 (1)
    • ►  Oktober 2018 (6)
    • ►  September 2018 (4)
    • ►  Agustus 2018 (6)
    • ►  Juni 2018 (1)
    • ►  Mei 2018 (3)
    • ►  April 2018 (1)
    • ►  Maret 2018 (4)
  • ►  2017 (44)
    • ►  Desember 2017 (10)
    • ►  November 2017 (1)
    • ►  Oktober 2017 (6)
    • ►  April 2017 (2)
    • ►  Maret 2017 (8)
    • ►  Februari 2017 (7)
    • ►  Januari 2017 (10)
  • ►  2016 (49)
    • ►  Desember 2016 (1)
    • ►  Oktober 2016 (3)
    • ►  Agustus 2016 (3)
    • ►  Juli 2016 (13)
    • ►  Juni 2016 (1)
    • ►  Mei 2016 (10)
    • ►  April 2016 (5)
    • ►  Maret 2016 (11)
    • ►  Februari 2016 (2)
  • ►  2015 (19)
    • ►  Desember 2015 (4)
    • ►  November 2015 (5)
    • ►  September 2015 (1)
    • ►  Agustus 2015 (1)
    • ►  Juli 2015 (2)
    • ►  Juni 2015 (2)
    • ►  April 2015 (1)
    • ►  Maret 2015 (2)
    • ►  Februari 2015 (1)
  • ►  2014 (2)
    • ►  Oktober 2014 (1)
    • ►  Juli 2014 (1)

Created with by ThemeXpose